?

Log in

Oh ya, halo. Ini adalah posting pertama setelah sekian lama. Sekian. Lama. Akhirnya saya menulis lagi. Tapi lupakan. Posting saya kali ini adalah untuk review. Jadi mari sudahi basa-basinya. Oh ya, don't ask me why I write this in English. Just because. xD

**



Annasumanara (안나라수마나라)
Written by: Il-kwon Ha
Read english translation here:
http://www.webtoons.com/episodeList?titleNo=7

"Do you believe in magic?"

"Yes..." what I was mumbled from the moment I read this webtoon. Overreact much? Nah. That's what I think when I first saw this pure genius work.





This was not the first webtoon I read. And while the experience of reading webtoon up until now still fascinated me, this particular work by miles took me into a totally different level. The visual experience given by "Annarasumanara" is something I couldn't put word into. It's that amazing, splendid, stunning... I wish I had more adjectives to describe the perfection of this work. The way the author plays with the collage, pattern, and especially colors, really fascinated me and made me thought, "Wow, webtoon is such a great invention of the mankind" -- lol.

Being aggressive with its visual doesn't make it the true hero of this work. It's the message. The message this work carries thorough the magical characters, which centered aroud: Yoon Ai, L, and Kim Ildeung. Not only it highlights the problems of students in South Korea (though it probably happens anywhere), it also made me think for a moment about my life decision. It made me want to write again and think, "Is this really what I'm dreaming to do?"

The story itself is also amazing. Along with the chapters, you discover things you didn't realize before. I was also engrossed by the main character Yoon Ai, and my emotions were exactly like what she's been through in the story. There were times I doubted the magician, then I believed him, then all of sudden it was... well, I wouldn't go into details. :p

By the end of the day, I do believe in magic "Annarasumanara" has brought. It is magical enough that it made me want to write again in this abandoned blog after years. It is magical enough to make me cry. And it is magical enough to make me think about its message.

Consensus: Mind blowing
Visual: 9/10 -- That real life objects pasted on sometimes feels off.
Characters: 10/10 -- Phenomenal
Story: 9/10 -- The beginning is slow but it's worth waiting!

KTM #0: Prolog

Seperti yang sudah saya sebutkan di postingan saya sebelumnya, saya akan membahas kuliah inspiratif yang satu ini. Insya Allah saya akan menuliskan review setiap kuliah. Review lho ya, bukan resume atau catatan kuliah. Tetapi "kesan" yang saya dapatkan dari kuliah tersebut. Saya akan mengusahakan menulis postingan ini dengan rutin. Doakan saja saya tetap konsisten menulis! Yeah!

Pertama-tama, saya akan memperkenalkan mata kuliah ini secara ringkas. Mata kuliah berjudul "Industri Pangan" ini memiliki kode TK4231, artinya ini adalah mata kuliah wajib tingkat empat, dan saya mengambil di saat yang tepat. Saat saya sudah setidaknya *mengambil* -- meskipun belum tentu sudah lulus, hahaha -- mata kuliah dasar dan bersiap menerjunkan diri ke dunia industri yang ganas. Oh yeah.


Lalu ada apa dengan KTM? Apa itu KTM? Sebuah kartu yang saya hilangkan berulang kali? Haha. Tentu saja bukan. KTM di sini adalah singkatan dari "Kuliah Tertawa Miris". Hehe. Mengapa saya sebut begitu? Karena pada saat kuliah ini kami banyak sekali tertawa. Sayang, tawa kami ini adalah tawa miris. Tawa sarkastik pada bangsa sendiri. Tawa yang bukannya melegakan hati, malah menambah beban pikiran. Dan moral. 


Ya, ini hanyalah prolog, yang bertujuan untuk menambah jumlah postingan di blog ini. Biar kelihatannya saya rajin nulis gitu. Hehe. Postingan pertama akan diposting beberapa jam lagi... semoga. Hihi. ^^
(Ceritanya ini ditulis seandainya ada orang yang diam-diam yang membaca blog saya, meski sepertinya tidak ada. LJ kurang populer ya di Indonesia? Padahal saya senang karena dia lebih user friendly buat orang gaptek macam saya)

Astaga. Sudah berapa lama postingan ini ditelantarkan? Heu. Maafkan saya. Bukan kesibukan yang mengalihkan saya, tetapi dunia hiburan Korea yang menyita otak saya. Astaga, tidak produktif sekali saya ini. Hhh... Baiklah, mari kita lanjutkan postingan yang terlantar ini. Sebelum itu, saya hendak membela diri. Salah satu alasan saya mengapa postingan ini tidak dilanjutkan adalah karena DATA RESEP YANG SAYA TULIS HILANG! Dan saya terpaksa harus membuka luka lama mendata ulang dari game tersebut. Sedikit random, tetapi mungkin ada yang heran, mengapa pula saya memilih hari ini dari semua hari? Jawabannya ada di postingan saya selanjutnya tentang kuliah spektakuler yang baru saya jalani hari ini. Doakan saja semoga saya bisa benar-benar menulis postingan tersebut, haha.

RANDOM: Btwbtw, katanya ada Chocolatier 3 ya? Widiiih~~~ *memburu GameHouse*

Sebelumnya, saya ingin sedikit pamer hasil yang saya capai setelah satu minggu kurang bermain dengan giat pada liburan yang lalu, hehe.

Sekali lagi, saya adalah orang yang amat sangat ceroboh dan tidak lihai dalam bermain game. Jadi mohon maklum seandainya saya terlalu overexcited dengan hasil sesederhana ini. ^^ Mari langsung lanjutkan saja ke pembahasan "secret ingredients" yang nampaknya akan memakan waktu jutaan tahun kalau saya terus-terusan menuruti kemalasan diri.

(3) BLACK TEA
(di game ini ditemukan di The Himalaya)

Random: Ketika pertama kali saya mendengar "black tea", yang terbayang di benak saya adalah "Peko Black Tea"-nya "Walini", sebuah merk teh lokal. Haha. Sedikit trivia, teh celup/teh botol/teh kotak yang biasa kita konsumsi adalah teh hijau yang ditambahkan aroma melati.

Teh mungkin sudah tidak asing lagi bagi kita, dan juga bagi auto-correct Microsoft Word yang selalu bersikeras ini seharusnya ditulis "the", tetapi mungkin tidak banyak yang tahu tipe-tipe teh. Pada dasarnya, teh yang kita kenal dan kita suka ini berasal dari spesies yang sama, Camillea sinensis atau Camillea asimeca. Nah, pemrosesan teh ini cukup unik karena daun teh akan langsung layu dan teroksidasi bila tidak dikeringkan langsung setelah dipetik. Daun tersebut akan menjadi lebih hitam seiring dengan rusaknya klorofil dan lepasnya tanin. Proses oksidasi ini akan terhenti pada tahap tertentu dengan cara dipanaskan.

Klasifikasi teh ini pun dibagi berdasarkan pemrosesannya.
- teh putih: dilayukan tetapi tidak dioksidasi
- teh kuning: tidak dilayukan dan tidak dioksidasi, tapi dibiarkan menguning
- teh hijau: tidak dilakukan dan tidak dioksidasi
- teh oolong: dilayukan, dipotong-potong, sebagian dioksidasi
- teh hitam: dilayukan, dihancurkan, dan dioksidasi penuh

Berikut ini adalah diagram alir pengolahan teh:


Langsung saja dengan si teh hitam ini. Bagaimana cara memproses daun teh menjadi teh hitam?


Tahap pertama setelah daun teh dipetik adalah pelayuan. Daun teh dibiarkan layu di dalam ruangan menggunakan udara kering yang dihembuskan oleh kipas/fan (lihat gambar di atas). Selain dengan cara tersebut, teh juga dapat di"layukan" di bawah sinar matahari seperti teh oolong. Proses ini membantu protein terdegradasi menjadi asam amino dan pelepasan kafein -- yang nanti tentunya akan mempengaruhi rasa teh. Perbedaan berbagai jenis teh dalam tahap ini adalah pada kandungan air dan persen daun kering teh akhir.

Setelah proses pelayuannya, teh hitam dapat diproses menggunakan dua cara: ortodoks dan CTC. Proses ortodoks diawali dengan penghancuran menggunakan penghancur sederhana yang dilakukan biasanya secara manual. Setelah itu, teh dibiarkan teroksidasi di dalam ruangan yang suhunya diatur 20-26°C dengan kelembapan 95-98%. Proses oksidasi ini memerlukan waktu setengah jam sampai tiga jam. Setelah dioksidasi di dalam ruangan, selanjutnya daun teh dilewatkan ke dalam rotovane (cara ortodoks). Perbedaan proses ortodoks dan CTC ini adalah pada jenis alatnya. Pada cara ortodoks, daun teh dilewatkan ke dalam meja yang berputar, sementara pada CTC,  alat ini memiliki "gigi" yang dapat mencabik-cabik teh secara lebih seragam. (? entahlah saya kurang mengerti bagian ini -_- tapi kayaknya proses CTC juga diawali sama fermentasi di awal itu lho...). Terakhir, untuk menghentikan proses oksidasi, daun teh ini kemudian dikeringkan, dites rasanya, disortasi, dikemas, dan siap dijual! ^^
 

Nah, selanjutnya, ini yang belum saya lakukan di postingan sebelumnya. Bagaimana bila teh ini ditambahkan ke dalam cokelat? Hmm... Ketika saya mencari di google dengan kata kunci "black tea chocolate" yang muncul adalah teh hitam dengan rasa coklat. Tsk. Akhirnya, setelah diubah sedikit menjadi resep chocolate truffle, ditemukanlah web resep ini: http://www.delish.com/recipefinder/black-currant-chocolate-truffles-desserts. Bagaimana rasanya? Entahlah. Saya belum mencobanya. Mungkin di suatu masa ketika saya tidak lagi selalu gagal dalam memasak (haha), saya akan mencobanya. Kalau ada yang berhasil membuat, mohon dishare bagaimana rasanya! ;)

Sumber:
http://en.wikipedia.org/wiki/Black_tea
http://en.wikipedia.org/wiki/Tea
http://en.wikipedia.org/wiki/Tea_processing
http://en.wikipedia.org/wiki/Orange_pekoe
http://www.emt-india.net/process/tea/pdf/TeaProductionProcess003.pdf
http://peermade.info/travel/index.php?page=114
http://www.delish.com/recipefinder/black-currant-chocolate-truffles-desserts

(to be continued)

Next: Cloves/Cengkih dan Currants

Vector Practice #1: JYJ & Himatek





Berikut ini adalah vector image dari logo-logo yang beredar di pasaran, hehe. Tentu saja, ini adalah duplikat yang sangat tidak eksak. Oleh karena itu, jika ada yang bisa membuat duplikatnya yang lebih baik, harap berkomentar di sini. 
Software yang digunakan: Inkscape

1. JYJ 1


2. JYJ 2

3. JYJ - In Heaven

4. Himatek


Catatan:
- Harap izin terlebih dahulu melalui komentar jika ingin menggunakan
- Dilarang me-hotlink gambar-gambar di sini. Silakan unduh dan kemudian unggah kembali sendiri.

Terima kasih.

Hiduplah untuk Hidup

Postingan lama. Ditulis dahulu untuk tugas esai panitia ProKM 2009. Entah mengapa, setiap membacanya, saya jadi merasakan tamparan semihalus (?). Dan esai ini sudah berulang kali di repost entah itu di fictionpress atau di blog-blog dahulu. 

Yah. Begitulah.


------------------------------------------------------------------

Berbicara tentang hidup, tentu bicara tentang relativitas, karena setiap orang punya pengertian yang berbeda. Biologiwan punya pendefinisian sendiri, bahkan antarbiologiwan pun banyak pendefinisian yang berbeda. Matematikawan pun mungkin punya definisinya sendiri. Cara presiden mendefinisikan hidupnya mungkin akan berbeda dengan cara wakil presidennya. Yang satu bisa saja ingin melanjutkan yang sudah ada sedang yang lain ingin segalanya lebih cepat. Entahlah. Hidup begitu luas untuk kita generalisasi pendefinisiannya bagi setiap orang.

Dari sebuah pendefinisian itu, biasanya akan lahir sebuah kesadaran diri, yang berlanjut pada pemaknaan. Apa tujuannya hidup? Mengapa dia hidup? Setelah hidup lalu apa? Sebagian orang mungkin akan berkata, “Hidup ya hidup aja. Untuk apa repot-repot.” Sebagian orang lagi mungkin akan berkata, “Hidup itu untuk bersenang-senang sebanyak mungkin karena hidup itu cuma satu kali.” Istilah kerennya mungkin, hedonisme. Lalu nanti sebagian orang lainnya mungkin akan menunding mereka tidak mampu memaknai hidup mereka. Menganggap hidup mereka adalah kesia-siaan.

Benarkah? Bagi saya, mereka telah memaknai hidup mereka.  Ya, karena memaknai hidup, bagi saya adalah sebuah keniscayaan. Setiap orang pasti akan memaknai hidupnya dengan caranya masing-masing. Apakah setiap orang akan menganggapnya perlu atau tidak, maka sesungguhnya seperti itulah ia memaknai hidupnya. Memaknainya dengan perlu memaknai hidup atau memaknainya dengan tidak perlu memaknai hidup. Bingung?

Mari kita lihat contoh yang saya sebutkan sebelumnya, seseorang yang menganggap hidup tidak perlu repot-repot, jalani saja seadanya, ikuti air yang mengalir membawanya kemana saja. Saat ia berpikir seperti itu, maka sesungguhnya ia telah memaknainya. Meski ia bicara tak perlulah memaknai hidup, yang sedang ia lakukan pun adalah memaknai hidup dengan caranya sendiri. Caranya yaitu, tidak perlu memaknai hidup, yang ia tafsirkan dengan hidup seadanya.

Mungkin tidak ada yang salah dengan statement-nya. Kebenaran dan kesalahan, bahkan segalanya, itu relatif, jika tanpa tolok ukur. Kecepatan suatu benda relatif, dilihat dari siapa pengamatnya. Pengamat inilah tolok ukur. Lebih dekat lagi, mungkin, kacamata pengamatnya lah yang menjadi tolok ukur.

Bisa bayangkan hidup tanpa tolok ukur? Segalanya menjadi relatif. Membunuh orang tidak berdosa, merampas harta benda orang lain, segalanya bisa dilegitimasi sebagai kebenaran, jika kita berkata “relatif”. Jika relatif ini yang disebut kebebasan, maka sesungguhnya kita lebih mudah dijajah, lebih mudah direnggut kebebasannya. Kebebasan berpendapat yang terlalu bebas, bisa berujung pada penjajahan mental akibat pendapat-pendapat yang terlalu mendominasi. Tolok ukur pun menjadi penting. Tolok ukur inilah yang kemudian disebut nilai.

Ada nilai-nilai agama, nilai-nilai negara, nilai-nilai masyarakat, dan nilai-nilai lainnya. Nilai-nilai masyarakat suatu saat akan berubah, begitu pun nilai-nilai negara, tergantung pada siapa penguasanya. Sekali lagi, memilih nilai mana yang akan lebih dijunjung adalah hak setiap orang. Lagi-lagi relatif. Ya, karena setiap orang dikaruniai dengan akal untuk mengambil keputusan. Lalu, bagaimana dengan nilai-nilai agama? Menganggap agama adalah doktrin untuk merenggut kebebasan menurut saya adalah pandangan yang naif. Karena seperti yang saya jelaskan sebelumnya, jika segalanya begitu relatif lalu segalanya punya kesempatan untuk menjadi benar. Setiap orang melakukan hal sesukanya dan mungkin akan menciderai orang sesukanya. Kemudian, nilai-nilai masyarakat dan nilai-nilai negara pun bisa relatif. Relatif masyarakat atau relatif penguasa. Dan yang dibutuhkan adalah nilai yang hakiki, yang tak lekang waktu maupun ruang.

Arah paparan saya tentu akan tertebak kan? Ya, saya meyakini nilai-nilai agama ini bukan sembarang nilai, karena ia adalah nilai dari Zat mahaagung, mahabesar. Jika ini bukanlah kebebasan menurut mereka yang meyakini relativitas lebih luas dibandingkan Einstein, maka saya merasa begitu bebas, begitu  terlindungi dengan nilai yang saya yakini. Masalah perbedaan agama satu dan yang lainnya saya rasa terlalu jauh jika saya paparkan di sini. Saya hanya akan menyorot satu nilai agama yang saya yakini: Islam.

Kembali lagi ke persoalan, bagaimana kita seharusnya memaknai hidup? Setelah kita cukup pusing dengan segala bentuk relativitas, saya akan menawarkan sebuah nilai yang akan menjadi tolok ukur dalam memaknai hidup: Islam; Quran dan Sunnah. Jika ditanya bagaimana saya akan memaknai hidup saya, saya tidak perlu bersusah payah mengarang, karena sudah ada tolok ukur yang pasti, yang saya yakini tak lekang ruang dan waktu.

Apa tujuan hidup, apa yang terjadi setelah hidup, dan segala pertanyaan tentang memaknai hidup, semua sudah terangkum dalam nilai yang saya yakini. Tujuan hidup saya adalah untuk beribadah, yang terjadi kepada saya setelah hidup di dunia ini adalah hidup di dunia lain. Terjajah oleh keyakinan? Tidak. Karena saya tidak perlu menjajah lebih lanjut diri saya sendiri dengan kebingungan akan hidup. Yakin adalah kuncinya, mungkin disebut membeo oleh kalangan yang lebih memilih untuk tidak tunduk pada nilai manapun. Maka itu relatif. Terserah, karena ini yang saya yakini.

Lalu mengenai judul “Hiduplah untuk Hidup...”, saya teringat dengan buku kaderisasi milik kakak saya. Salah satu tugasnya adalah meminta biodata teman-teman seangkatan, dan salah seorang dari mereka menulis: “Hiduplah untuk hidup... di akhirat.” Ya, hidup untuk mati begitu sia-sia kelihatannya. Jika kematian adalah akhir dari segalanya, maka apalah arti hidup untuk diri kita sendiri? Jika segala amal kita tidak diperhitungkan, lalu untuk apa semua ini? Untuk apa saya menulis esai ini jika ketika saya mati esai ini tidak memberi efek apapun untuk saya? Karena itulah, saya ingin menutup esai saya tentang pemaknaan hidup ini dengan kalimat yang sama: “Hiduplah untuk hidup di akhirat.” Semoga menginspirasi.

Tags:

Fanart: JYJ - In Heaven

Jadi ceritanya, saya baru saja membuat akun deviantart, tetapi saya kurang nyaman dengan fitur-fiturnya dan kurang cocok pula dengan kapasitas internet saya. Akhirnya, saya pun memutuskan untuk mem-posting fanart di blog ini saja. ^^


Singkat cerita, fanart  ini terinspirasi oleh MV JYJ yang jadi K-Pop Hot Clips di channel YouTube KBS World minggu ini, "In Heaven". Seperti yang semua fans JYJ sudah tahu, lagu "In Heaven" ini dibuat oleh Jaejoong yang kurang lebihnya adalah menceritakan tentang kematian sahabatnya, Park Yong-ha, yang ditemukan bunuh diri di apartemennya 2010 silam.

Video klipnya sendiri bercerita tentang penyesalan seseorang yang pada masa lalu tidak mampu memberikan yang terbaik untuk orang yang dicintainya. Pada video klip ini, orang yang menyesal tersebut diberi kesempatan untuk memperbaiki masa lalunya. Akan tetapi, pada akhirnya, tetap saja takdir yang menang. Terlepas dari perbedaan pendapat orang-orang yang menontonnya, saya sendiri berpendapat MV ini memiliki makna: "takdir adalah takdir, tidak ada gunanya disesali, karena itu manfaatkanlah hari ini dengan semaksimal mungkin." Saya justru tidak akan heran atau kecewa seandainya di akhir MV, tokoh utama pria yang penuh penyesalan itu terbangun dari "mimpi"nya. 

Oh ya, tentang gambar ini sendiri, mohon maaf jika ada keterbatasan terutama dalam hal kerapian. Kalau boleh saya membela diri, ini adalah fanart pertama saya setelah vakum sekian juta tahun lamanya (?) dan saya tidak menggunakan mouse apalagi graphic tablet, saya hanya menggunakan touch pad yang sudah terintegrasi dengan laptop ACER tua saya. ^^ Untuk program sendiri, yang saya gunakan adalah Corel Painter IX dengan brush hanya calligraphy dan sedikit sentuhan distortion untuk background. ^^

#3 My English Diary: "Galau"

Okay so I pretty much ruined myself last Tuesday. So much ruined that I even need to take a two days break. It's really weak actually, considering the problem is not as big as I imagine. I mean, I can just retake the test. However, there's this frustrating anxiety every time I recall that memory. So much anxiety that I start become like a scared cat again.

That's just the first story.

Another story is, it was during that time when I finally questioned myself again: "What am I doing here? What am I going to do after all of this?". I actually have made a life plan when I started out college, but I found out, woah, that's just VERY HARD TO ACCOMPLICE. Further more, it's not like that's what I really want -- and I'm still in stage where I still ask about what is my true potential. I know I'm lacking so much, and I don't want to know which part I'm lacking, I just want to know which part I'm good at. 

... And I wonder when will I finally find my true passion. T.T
Yesterday, I've heard one of my friend say something about English. He said that it's not like he can't speak English, the reason why he always talks Bahasa Indonesia is because he praises this national language as a form of nationalism.

Really?

True, speak our own nation language is a form of nationalism. But not speak another language as a form of nationalism? 

Pardon me. If he was going to battle against me in terms of nationalism, I don't think I'll lose to him. Let's just use this simple logic:

1) English is a global language
2) We have to prepare ourselves for this globalization era
Therefore...
3) We have to learn English

No, I don't speak English because I'm ashamed of my own language. It's simply because I want to improve my English, and I have more chance to improve my Bahasa Indonesia in other times. I also don't speak English with my friends recently in our free times to make ourselves look intelligent whatsoever. No. It's simply because of we want to save money, rather than pay for tuition fee in conversation class, we prefer to practice our conversation in our daily life.

Lastly, what is nationalism?

"Nationalism is a political ideology that involves a strong identification of a group of individuals
with a political entity defined in national terms
."


And yeah, I don't think limiting our development (as in, speak in another language) is a form of nationalism.
Pertama-tama, saya ingin menegaskan bahwa saya tidak pernah dibayar oleh GameHouse untuk mempromosikan game ini. Saya juga sejujurnya bermain game ini bukan karena saya mahasiswa teknologi pangan, tetapi karena saat itu saya sedang liburan. Sejujurnya lagi, saat saya pertama memainkannya, saya tidak begitu peduli -- penasaran memang -- dengan "benda-benda aneh" yang saya temui di sana.


Chocolatier 2: Secret Ingredients

Sebelum kita lanjutkan, ada baiknya saya memperkenalkan terlebih dahulu game macam apa yang saya bicarakan ini.

Chocolatier 2: Secret Ingredients adalah game yang mengajak Anda untuk berbisnis coklat bersama. Anda sebagai pendatang diserahi sebuah pabrik coklat yang nyaris bangkrut. Bermodal dengan uang alakadarnya, pabrik yang nyaris tutup, dan satu dua resep coklat dari pemilik asli pabrik tersebut, Anda harus membangun kerajaan bisnis coklat Anda sendiri. Game ini tidak sulit, bahkan untuk orang yang clumsy seperti saya. Singkat cerita, Anda harus memperluas bisnis Anda, membeli pabrik yang tersebar di seluruh dunia, memperkaya diri, dan ini yang paling penting: menemukan seluruh resep yang ada. Resep-resep coklatnya cukup unik, meski saya tidak juga tertarik untuk mempraktikannya. Yang lebih unik lagi adalah berbagai bahan yang diperlukan untuk membuat resep itu. Ada beberapa pedalaman seperti Amazon, Himalaya, Sahara, bahkan Fiji dimana Anda akan menemukan bahan-bahan "rahasia" di sana. Dan pada postingan berseri ini, yang ingin saya bahas adalah bahan-bahan unik tersebut. Mungkin nanti bila sempat saya akan membahas jenis-jenis coklat yang muncul di dalam game ini. ^^

(1) AMAZONIAN PLANTAINS
(di game ini ditemukan di The Amazon)

Ketika saya mencari "amazonian plantains" di Google, saya sudah tidak heran ketika baris pertama menunjukkan tulisan Chocolatier. Hehe. Kekayaan flora dan fauna hutan tropis memang sudah barang tentu tidak diragukan, begitu pula dengan Amazon ini. Begitu banyaknya hingga saya agak malas mengulasnya satu persatu. Untuk salah satu ulasan tentang beberapa flora di Amazon ini, silakan klik di sini. Satu yang paling menarik perhatian saya adalah peach palm (Bactris gasipaes).

Kingdom: Plantae
Orde: Arecales
Famili: Arecaceae
Genus: Bactris
Spesies: B. gasipaes

Pohon B. gasipaes dapat tumbuh hingga 20 meter lebih. Buahnya berbiji dengan daging buah yang dapat dimakan menyelimuti biji tunggal. Buah tersebut memiliki panjang 4-6 cm dan lebar 3-5 cm. Kulit buahnya dapat berwarna merah, kuning, atau jingga tergantung varietas palem tersebut.


Buah Bactris gasipaes

B. gasipaes sejak dahulu digunakan oleh masyarakat lokal sebagai makanan. Buahnya biasanya dijerang di dalam air garam. Selain itu, buah tersebut dapat dimakan langsung setelah dikupas dan diberi garam atau madu. Buah ini juga dapat dicampur untuk membuar jeli, tepung, atau minyak.
Komposisi 100 gram daging buah B. gasipaes adalah sebagai berikut:
  • 164 cal
  • 2,5 gram protein
  • 28 mg kalsium
  • 31 mg fosfor
  • 1500 mmg vitamin A
  • 0,06 vitamin B1
  • 34 mg vitamin C


(2) ANISE
(di game ini ditemukan di The Sahara)


Kingdom: Plantae
Ordo: Apiales
Famili: Apiaceae
Genus: Pimpinella
Spesies: P. anisum

Sejujurnya, di game inilah saya pertama kali mendengar nama tumbuhan jenis ini. Anise adalah tanaman herbal tahunan yang dapat tumbuh hingga mencapai 0,91 m. Tanaman ini memiliki daun sederhana yang seperti cuping di bagian tubuh dan daun yang bercabang di bagian pucuk. Bunga anise berwarna putih dengan diameter kurang lebih 3 mm. Buahnya berupa schizocarp sepanjang 3-5 mm (seperti kacang polong). Di dalam buah inilah terdapat biji yang disebut aniseed. Anise tumbuh paling bagus di tanah yang ringan dan subur. Bijinya harus ditanam sesegera mungkin ketika tanah mulai hangat oleh musim semi. Di dunia, anise ini ditanam di Turki, Mesir, Spanyol, Rusia, Italia, India, Yunani, Afrika Utara, Argentina, Malta, Romania and Siria -- tetapi paling banyak dibudidayakan di Turki.

Berikut ini adalah komposisi anise:
  • 1–4% volatile oil;
  • coumarins: bergapten, umbelliprenine, umbelliferone, scopoletin;
  • ca. 8–16% lipids, including fatty acids: 50–70% petroselinic acid (C18:1), 22–28%
  • oleic acid (C18:1), 5–9% linoleic acid (C18:2) and 5–10% saturated fatty acids mostly
  • palmitic acid (C16:0);
  • -amyrin, and stigmasterol and its salts (palmitate and stearate);
  • flavonoid glycosides: quercetin-3-glucuronide, rutin, luteolin-7-glucoside, isoorientin,
  • isovitexin, apigenin-7-glucoside (apigetrin) etc;
  • myristicin;
  • ca. 18% protein;
  • ca. 50% carbohydrate and others.

Nah, ini nih yang paling penting dan paling nyambung sama mata kuliah di Teknik Kimia. Seperti tanaman herbal lainnya, anise ini mengandung minyak esensial (essential oil) yang membuatnya memiliki rasa seperti licorice. Minyak esensial paling dominan di dalam anise adalah anethol (nama IUPAC: 1-methoxy-4-(1-propenyl)benzene).

Anethol

Anethol ini termasuk eter aromatik tidak jenuh. Anethol lebih mudah larut di dalam etanol dibandingkan air sehingga bila perisa anise dilarutkan di dalam air rasanya agak lebih terpisah. Anethol berfasa cair dengan titik didih 234 °C dan titik beku 20 °C. Apabila temperatur di bawah 20 °C, anetol akan mengkristal. Oleh karena itu, pemisahan anetol dengan cairan lain sebetulnya cukup mudah. Anetol memiliki rasa manis, 13 kali lebih manis dari gula. Rasa anetol juga tetap nikmat meski pada konsentrasi yang tinggi. Anetol digunakan di minuman keras, bumbu masak, dan industri gula-gula. Akan tetapi, perlu diperhatikan bahwa anethol ini sedikit beracun sehingga konsumsi dalam jumlah berlebih perlu diperhatikan.

Minyak anise paling banyak terdapat di dalam bijinya. Oleh karena itu, produksi minyak esensial dalam skala komersialnya diperoleh dari aniseed ini. Produksi minyak anise per tahun dunia ini kurang lebih 40-50 ton. Negara pengimpor anise yang paling dominan adalah Amerika Serikat dan Perancis. Sementara itu, negara penghasil anise yang terbesar adalah Rusia, Spanyol, dan Polandia. Lagi-lagi, seperti layaknya Indonesia dan kekayaan minyak esensialnya yang melimpah tetapi tidak diberdayakan, tidak ada distilasi minyak anise dan produksi anethol di negara-negara yang menanam tanaman tersebut (duh). Minyak anise ini didistilasi menggunakan kukus dari biji anise yang dihancurkan. Kukus tersebut kemudian membawa minyak anise dan setelah dikondensasi membentuk campuran air-minyak. Minyak anise yang densitas lebih ringan ini kemudian naik ke permukaan air dan dipisahkan.


(Bersambung)


Sumber:
http://en.wikipedia.org/wiki/Anethol
http://en.wikipedia.org/wiki/Anise
http://en.wikipedia.org/wiki/Bactris_gasipaes
Handbook of Herbs and Spices

1st "My English Diary"

Yes I'm starting to nonchalantly post everything in my oh-so-cunning English. Kke.

I think I'm going to write a longer post later. As for my first attempt in writing a so-called-diary, I'm just going to say...

FIGHTING!!! :D