Alhamdulillah, akhirnya libur juga. Bagi saya, libur adalah berkah tak terhingga. Bayangan saya dapat menyelesaikan berbagai target non-akademis yang biasanya terpaksa mengalah dengan jadwal kuliah yang lalim membuat saya begitu semangat menyongsong liburan. Akan tetapi, tak jarang berkah itu menjadi bumerang juga untuk saya. Ya, seringkali saya terlampau santai hingga melupakan target-target liburan saya dan ketika akhirnya hari-hari kuliah menjelang, saya hanya dapat terpekur. Menyesal.
Maka hari ini, dengan tekad membaja (halah), saya menyongsong koneksi internet di rumah (lho?). Tik, tik. Jam dinding di kamar saya berdetak pelan. Saya berpikir sejenak. Hmm... rasanya hari ini terlalu indah jika hanya saya habiskan dengan Facebook. Bagaimana kalau saya murajaah aja? Ah, tapi saya bosan dengan muratal yang itu-itu saja. Kemudian, saya teringat dengan muratal indah yang acap kali saya dengar di radio Rodja. Awalnya saya kira yang membacanya adalah akhwat, kemudian setelah saya search di google, saya akhirnya tahu bahwa beliau yang membacanya adalah seorang ikhwan yang subhanallah, masih anak-anak.
Yaaa... intinya adalah, saya berhasil menemukan situs untuk mengunduh mp3 muratal Akh Ahmad Saud ini. Dan subhanallah, suara beliau merdu sekali... benar-benar membuat saya ber-"waw" "waw" kagum. Hmm... yang patut dipuji bukan hanya Ahmad Saud, tapi pengajar Ahmad Saud. Astaghfirullah, saya teringat adik-adik sepupu saya yang masih kecil di rumah. Semangat mereka membaca iqra seringkali saya abaikan dengan alasan "Kaka Hana kan masih capek..."
Fyuh, betapa sering saya melalaikan dakwah keluarga. Padahal Imam Syafi'i menjadi begitu hebat juga karena sang bunda yang mengajarnya. Hari ini, ketika mendengar muratal Ahmad Saud, saya jadi berpikir. Bagaimana jika saya mendengar suara adik-adik sepupu saya melantunkan kalimat-Nya dengan begitu indah? Bagaimana jika paman dan bibi saya juga mendengar mereka membacakan ayat-ayat-Nya dengan begitu merdu? Hmm... akhirnya hari ini saya menemukan pekerjaan baru: membuat rencana belajar untuk mereka.
Allah, kuatkanlah tekadku...
link: http://www.mp3quran.net/eng/saud_english.h tml
Maka hari ini, dengan tekad membaja (halah), saya menyongsong koneksi internet di rumah (lho?). Tik, tik. Jam dinding di kamar saya berdetak pelan. Saya berpikir sejenak. Hmm... rasanya hari ini terlalu indah jika hanya saya habiskan dengan Facebook. Bagaimana kalau saya murajaah aja? Ah, tapi saya bosan dengan muratal yang itu-itu saja. Kemudian, saya teringat dengan muratal indah yang acap kali saya dengar di radio Rodja. Awalnya saya kira yang membacanya adalah akhwat, kemudian setelah saya search di google, saya akhirnya tahu bahwa beliau yang membacanya adalah seorang ikhwan yang subhanallah, masih anak-anak.
Yaaa... intinya adalah, saya berhasil menemukan situs untuk mengunduh mp3 muratal Akh Ahmad Saud ini. Dan subhanallah, suara beliau merdu sekali... benar-benar membuat saya ber-"waw" "waw" kagum. Hmm... yang patut dipuji bukan hanya Ahmad Saud, tapi pengajar Ahmad Saud. Astaghfirullah, saya teringat adik-adik sepupu saya yang masih kecil di rumah. Semangat mereka membaca iqra seringkali saya abaikan dengan alasan "Kaka Hana kan masih capek..."
Fyuh, betapa sering saya melalaikan dakwah keluarga. Padahal Imam Syafi'i menjadi begitu hebat juga karena sang bunda yang mengajarnya. Hari ini, ketika mendengar muratal Ahmad Saud, saya jadi berpikir. Bagaimana jika saya mendengar suara adik-adik sepupu saya melantunkan kalimat-Nya dengan begitu indah? Bagaimana jika paman dan bibi saya juga mendengar mereka membacakan ayat-ayat-Nya dengan begitu merdu? Hmm... akhirnya hari ini saya menemukan pekerjaan baru: membuat rencana belajar untuk mereka.
Allah, kuatkanlah tekadku...
link: http://www.mp3quran.net/eng/saud_english.h
- Location:baiti jannati
- Mood:
touched - Music:muratal ahmad saud :D
Lagi-lagi, mencopy dari catatan saya di Facebook. Bener-bener ga kreatif. Haha. xD
***
Setelah sekian lama majalah Tawazun edisi 8 dan 9 (tahun 2006-2007) itu nongkrong di atas meja saya (berdampingan dengan Kimia Chang, Kalkulus Purcell, dan komik-komik... ups), akhirnya kemarin majalah itu saya gotong ke atas tempat tidur untuk diteliti. Artikel yang pertama kali saya baca (setelah komik “Si Ajun” tentunya ^^) adalah cerpen yang direkomendasikan oleh teteh yang juga merekomendasikan majalah itu kepada saya. Cerpen itu berjudul “I’m Jealous”.
“Aku Cemburu”? Eits, ini bukan kisah kasih-kasihan dua insan yang dimabuk asmara (halah), ya. Karena kecemburuan di sini begitu indah dan begitu menggugah. Bukan picisan yang melibatkan sejumlah konspirasi (disiram air keras lah, difitnah hamil diluar nikah lah... sinetron banget ya?), melainkan sebuah kisah yang membuat kita benar-benar digelorakan oleh luapan cemburu. Ya, cemburu untuk segera menjumpai-Nya dalam keridhaan-Nya.
Penulis cerpen ini terinspirasi oleh kisah nyata wafatnya sosok ‘Mas Gagah’ Elektro ITB angkatan 2001. ‘Mas Gagah’? Ya, siapa lagi kalau bukan Mas Sigit Firmansyah. Mas Sigit yang kisah wafatnya, meski sudah berlalu sekian lama, tetap turun temurun diceritakan kepada adik-adik mentor (termasuk kita-kita ini 2008). Tidak, teteh mentor yang menceritakannya tidak berwajah sedih atau berduka, tetapi berwajah kagum dan “kabita”. Cemburu. Ya, wajar saja. Siapa yang tidak?
***
Beliau adalah sosok aktivis segala. Di jurusannya, di Kabinet Mahasiswa, di kegiatan mentoring... pokoknya aktivis banget, deh. Tapi, amanah kampus yang segunung itu tidak menghalangi amanahnya untuk tetap berbakti kepada kedua orang tua (aduh, kesindir). Beliau adalah anak kesayangan kedua orang tuanya. Ibundanya berkata, “Sigit itu sama dengan ayahnya. Orangnya baik. Mereka sama-sama ndak suka kalau lihat orang ngomongin orang lain (ghibah). Kalau ada orang yang seperti itu pasti diingatkan: ‘Jangan bilang gitu, nggak baik.’ Sigit itu kalau pulang, sukanya tadarusan (tilawah) terus. Di tasnya selalu ada Al-Qur’an kecil, ke mana pun dia pergi. Dia itu selalu shalat tahajjud, nggak pernah absen. Kalau dia nggak dibangunin untuk shalat tahajjud, dia akan marah dan bilang: ‘Kok saya nggak dibangunin sih?’ Dia suka ngasih petuah sama kakak-kakaknya, meski dia anak paling kecil. Hampir tiap hari Sigit ngirim SMS yang isinya petuah. Ayahnya Sigit sejak Sigit masih kecil sampai dewasa, sayaang sekali sama Sigit. Sampai-sampai kalau Sigit mau pulang, ayahnya sendiri yang menyiapkan dan merapikan kamar Sigit. Kasurnya saja sampai dijemur segala. Begitu dekatnya kedua bapak-anak itu, dan ternyata mereka pun meninggal bersama-sama...”
Ya, Mas Sigit yang subhanallah itu meninggal bersama ayahnya tepat menjelang Idul Fithri, tanggal 27 Ramadhan 1425 H. Tepat ketika maghfirah-Nya mencurah di sepuluh malam terakhir Ramadhan. Dan tepat ketika beliau baru saja dalam perjalanan menuju rumahnya. Subhanallah...
Tidak ada yang menduganya, karena tidak ada yang tahu kapan seseorang menjemput ajalnya kecuali Sang Rabb. Hari itu tetap berlangsung seperti biasa. Percakapan-percakapan yang ringan mengantarnya ketika ia hendak berangkat menuju stasiun. Obrolan macam “Bawain oleh-oleh, ya!” ditanggapinya dengan ucapan, “Siip! Insya Allah, kalau masih diberi kesempatan balik lagi ke Bandung. Tapi kalau nggak, jangan ditagih di akhirat, ya?! He he he...” Ah, betapa tidak ada yang pasti di dunia ini...
Malam itu beliau berangkat bersama salah seorang kawannya, Tomy, dengan kereta api yang berangkat ba’da Isya. Rencananya, beliau akan tiba di stasiun Tegal pukul 02.00. Sebelumnya, beliau telah menelepon ibundanya, mengabarkan bahwa beliau sudah kangen ingin sahur bersama keluarga. Setelah berpamitan dengan teman-teman satu kost-nya, saling meminta maaf dalam suasana haru-biru Lebaran dan indahnya ukhuwah, beliau dan Tomy berangkat.
Seperti biasanya penumpang kereta malam, waktu di dalam kereta tentunya dihabiskan orang-orang dalam satu aktivitas berjama’ah paling kompak: tidur. Tomy pun ikut tertidur. Yah, mau apa lagi? Kereta padat gara-gara arus mudik begini sih mana bisa dipakai jalan mondar-mandir? Tapi Mas Sigit ini, alih-alih tertidur, malah asyik melantunkan bait-bait syahdu firman-Nya. Ya, beliau begitu gigih mengejar keutamaan Ramadhan, tak ingin kalah dengan sahabat-sahabatnya yang beri’tikaf di masjid kampus tercinta atau masjid yang bacaan shalat qiyamul lail-nya tiga juz.
Begitulah... beliau tak bosan-bosannya berdialog dengan Sang Rabb, hingga akhirnya waktu menunjukkan pukul 23.00, beliau meraih benda kecil lain dari sakunya. Bukan mushaf, namun sebuah handphone. Ya, beliau mengetik baris-baris SMS yang kemudian dikirimkannya kepada salah seorang kawan...
Aslmkm. Akh, ‘afwan.. sudah tidur? Lagi i’tikaf ya? Dimana? Subhanallaah.. Saya sedang di kereta nih, mau mudik ke Brebes. Oh ya, gimana da’wah himpunan dan LDD? Sementara, saya titip da’wah departemen yah?! InsyaAllah saya tetap pantau, kok. Syukran. Selamat i’tikaf :). Mohon maaf atas semua salah dan khilaf saya. Salam buat temen-temen yang lain. Wslmkm.
Ketika akhirnya kereta berhenti di stasiun Tegal, beliau membangunkan Tomy. Kemudian saling berjanji untuk mengunjungi pada hari Lebaran nanti. Berdua dengan sang ayah dari stasiun, keduanya mengendarai motor, melintasi jalan raya yang sepi. Tak disangka, kurang lebih pukul 02.30, sebuah truk menabrak motor yang dikendarai oleh bapak dan anak itu. Tak ada yang menolong. Pengendara truk pun terus menjalankan kendaraannya. Tabrak lari!
Ayah Mas Sigit langsung meninggal di tempat. Sedang Mas Sigit yang melihat ayahnya terkapar, segera mencari bantuan. Meski bersimbah darah, beliau tetap berjuang mencari pertolongan. Alhamdulillah, seorang tukang becak melihatnya. Tapi tak lama kemudian, Mas Sigit pun lunglai. Terlalu banyak darah yang keluar dari tubuhnya...
Ibunda Mas Sigit berkisah, “Saya sengaja menunggu suami dan anak saya untuk makan sahur. Karena saat di telepon, Sigit bilang dia mau makan sahur bersama keluarga. Sekian lama saya tunggu, ternyata mereka belum juga muncul. Pun saat mendekati waktu Subuh, mereka belum juga tiba di rumah. Akhirnya saya makan sahur sendiri, tanpa mereka. Kalau mereka betul-betul mau sahur di rumah, mestinya mereka sudah sampai jauh sebelum waktu Subuh. Saya mulai cemas, khawatir terjadi apa-apa pada suami dan anak saya. Saya hanya bisa berdo’a pada Allah, semoga Allah melindungi mereka,”
“Begitu saya tahu apa yang menimpa suami dan anak saya, maka saya langsung ke Rumah Sakit. Saya ke kamar mayat, dan di sana saya dapati suami saya sudah meninggal. Meski banyak darah yang keluar, namun tak ada bau amis tercium. Hanya wangi. Lalu saya ke ruang ICU. Saya dapati anak saya, Sigit, sudah dikasih alat bantu pernafasan. Saya hampiri dia, dan setelah saya cukup dekat dengannya, saya hanya sempat mendengarnya mengucapkan kata: ‘Allah...’ pelaaan sekali, dan dia langsung meninggal. Seolah dia hanya menunggu kedatangan saya untuk berpamitan dan kemudian meninggalkan saya selama-lamanya...”
Ah, saat sakaratul maut adalah saat tersulit yang akan dialami setiap insan. Tak semua orang mampu menyebut asma Allah di hembusan nafas terakhirnya. Tapi Mas Sigit ini bisa. Lagi-lagi tak ada kata yang patut kita ucapkan kecuali “Subhanallah...”
***
Saya tak pernah mengenal Mas Sigit sebelumnya, terlebih melihat wajahnya. Tapi kisah beliau ini selalu dapat membuat saya menangis. Bukan karena sedih atau duka, tapi seperti kata penulis kisah di majalah ini, karena “I’m jealous...” Ya, begitu cemburunya ingin bisa seperti beliau yang begitu dikasihi Allah. Begitu cemburunya ingin seperti beliau yang begitu indah sambutannya di penghujung hidupnya. Disambut bidadari-bidadari bermata indah yang tidak pernah disentuh sebelumnya oleh jin dan manusia. Ya, seperti yang pernah dikatakan oleh beliau sendiri:
”Surga hanya akan menemukan definisinya di hati para pejuang.”
Saya sungguh sangat ingin menjadi pejuang seperti beliau...
Allahua’lam bisshawab...
(Bersambung ke bagian 2)
Biar “jleb”, silakan baca sendiri cerpennya. Majalahnya? Yaa cari sendiri saja lah di sekre MATA’ (tapi da sekarang mah lagi di saya :P). Hiks, sayang majalah ini udah nggak terbit lagi... :’(
- Location:home swit home
- Mood:
jealous - Music:desiran AC
Wajah gadis itu begitu cerah. Matanya yang berpendar penuh semangat mengisyaratkan keinginannya untuk melahap segala jenis informasi yang ada di hadapannya. Bersenjatakan pena berperisai buku catatan, gadis itu menghadiri halaqah yang dikenalnya dengan nama “mentoring”. Sapaan teman-temannya yang berwajah teduh itu membuatnya bertambah haus akan ilmu, terlebih pertanyaan macam “Apa kabar?” atau “Gimana tadi ulangannya?” yang menyejukkan hatinya.
Setelah momen-momen membahagiakan itu, sang gadis melihat teteh di hadapannya. Ups, wajah teteh itu tampak kusut dan berulangkali ia melirik buku tebal berjudul “Super Mentoring” itu sambil komat-kamit menghafal. Ah..., gadis itu berbaik sangka, mungkin si teteh lagi menyempurnakan materi yang sudah dipersiapkan sebelumnya. Satu menit... dua menit... gadis itu merasa kanan-kirinya tidak lagi kosong, rupanya teman-teman satu kelompok mentoringnya yang lain sudah datang. Lho, itu kan si A yang hanya datang di pertemuan pertama? Syukurlah, gadis itu membatin, akhirnya dia tergerak untuk datang juga... Gadis itu melirik lagi sang teteh mentor yang masih saja berkutat dengan buku saktinya. Ketika akhirnya sang teteh membuka mulutnya, pena di tangan gadis itu kini sudah siap menumpahkan tintanya sebanyak mungkin. Tapi...
“Aduh maaf ya, dek. Teteh kemaren belajar buat ujian, jadi hari ini belum nyiapin apa-apa”
Bles! Wajah gadis itu berubah pias. Kecewa. Tapi, lagi-lagi gadis itu berbaik sangka, namanya juga teteh mentor, nggak siapnya pasti beda kan sama kita-kita ini? Dipandanginya si teteh itu lama. Barangkali cerita, teteh itu kan suka cerita. Biasanya cerita teteh itu menambah semangat. Sungguh, mentoring yang dijalaninya selama dua tiga kali ini telah membuka cakrawalanya tentang Islam. Mengapa ia harus meragukan mentoring yang hari ini? Lama, gadis itu memandang teteh di depannya, yang semakin panik.
“Siing kriik kriik...” salah seorang teman gadis itu berceletuk, menderai tawa di lingkaran kecil mereka. Gadis itu ikut tertawa, tapi hatinya terasa pahit. Kecewa. Tahu begitu dia ikut saja waktu teman-temannya tadi mengajaknya ke BIP, nonton premiere Harry Potter, ditraktir pula! Dan begitulah... sepanjang mentoring, wajah gadis itu terus kecewa, wajah teman-teman gadis itu bertambah bosan, dan wajah si teteh mentor bertambah panik. Tak terhitung banyaknya “siing kriik kriik” yang terjadi selama mentoring itu, lebih banyak lagi teman-temannya yang terantuk-antuk bahu kawan sebelahnya. Mengantuk.
Satu minggu berlalu... hari yang biasanya selalu dinantinya kini disongsong gadis itu dengan wajah lesu. Ajakan teman-temannya untuk menghadiri bazaar SMA tetangga kini tidak dapat ditolaknya. Sapaan sejuk teteh mentornya kini diabaikannya. Lambaian riang teman-teman satu kelompoknya dianggap angin lalu. Ah, males ah, paling-paling kayak kemaren, si teteh ngomong apaan sambil lirik-lirik buku dan kebingungan sendiri, begitu pikir sang gadis. Dan minggu itu, si teteh harus menghadapi kenyataan bahwa adik mentornya berkurang dua orang... si gadis yang penuh semangat dan si A yang baru dua kali datang. Setelah cukup lama merenung, teteh itu akhirnya sadar. Minggu lalu amalan yaumian-nya hancur-hancuran...
Pernah mengalami episode seperti itu?
Kalau kita melihat dari sudut pandang gadis itu, kita mungkin bisa saja menyalahkan sang teteh mentor. Kita kan udah capek-capek datang, mengorbankan traktiran nonton teman. Tapi kan, batin kita ketika teringat episode-episode kita sebagai pementor, kalau memang ujian mau bagaimana lagi? Semalam suntuk mengerjakan tugas yang limitnya menuju tak hingga, boro-boro nyiapin mentoring, berangkat kuliah aja terlambat. Ya, apapun alasan kita sebagai seorang pementor, adik itu melihat performance mementor kita, tidak peduli apakah kita banyak tugas atau banyak amanah. Dan lihat, akibat melalaikan persiapan, Islam harus kehilangan salah seorang kadernya, yang mungkin malah akan menjadi tonggak perubahan umat Islam! Astaghfirullah...
Bukankah Rasulullah berdakwah dengan cara membacakan ayat-ayat-Nya, menyucikan jiwa, dan mengajarkan kitab-Nya dengan hikmah? Lalu, jika kita tidak tahu apa yang harus kita bacakan, lantas bagaimana kita merasa pantas untuk mengisi mentoring? Ibaratnya teko, bagaimana kita bisa mengisi gelas-gelas yang haus dahaga itu itu kalau teko itu tidak ada isinya?
Ah, gampang ngomong begitu. Kenyataannya kan, susah.
Ya, mempersiapkan mentoring memang bukan suatu hal yang mudah. Karena itu, tidak semua orang kan bisa menjadi pementor? Paling tidak, seorang pementor harus melalui serangkaian daurah dan memenuhi kriteria amalan yaumian. Dan kita, ketika akhirnya kita saat ini menjadi pementor, artinya kita mampu untuk itu. Kita mampu untuk mempersiapkan mentoring kita dengan baik. Ah masa sih? Iya, kok! Kalaupun kita baru sempat membaca bahan mentoring sejam sebelumnya, paling tidak dahulu kita pernah mendapat materi itu saat kita daurah, dan catatannya masih kita baca. Kalau tidak ada catatannya? Lah, siapa suruh nggak nyatet. Masa’ pementor nggak punya catatan? Hehehe...
Dan sungguh, lebih dari menguasai materi yang akan disiapkan, yang paling penting adalah persiapan ruhyah. Bayangin deh, adik-adik kita datang mentoring sebetulnya untuk men-charge ruhyah mereka, tapi kita tidak punya “energi positif” yang bisa kita berikan pada mereka. Lantas, apa yang kita harapkan? Alih-alih mencatat materi yang sudah kita persiapkan sampai jungkir balik, adik-adik kita malah terlelap dengan damai, bosan melihat wajah kusam tetehnya yang lupa qiyamul lail. Duh, kalau begini, bagaimana mentoring kita disebut sebagai pemasok kader?
Jika memulai usaha butuh modal, maka memulai mentoring pun butuh modal. Yap, modal buat beli snack adik-adiknya... hehe. Dan yang terpenting adalah, persiapan ruhyah dan ilmu. Karena itu, jika selama ini adik-adik kita satu persatu pergi, jangan langsung menyalahkan jalan dakwah yang memang penuh onak dan duri dan pengusungnya sedikit. Kalau hari ini masih ada adik-adik kita tersayang yang “hilang”, maka bertanyalah...
“Sudahkah saya mempersiapkan mentoring saya hari ini?”
------------- Dibuat dalam rangka memenuhi tugas magang kominfo MATA’ :P -------------
Astaghfirullah... kayaknya selama ini saya kayak gini deh... semoga saya juga bisa lebih baik lagi dalam mempersiapkan mentoring...
Setelah momen-momen membahagiakan itu, sang gadis melihat teteh di hadapannya. Ups, wajah teteh itu tampak kusut dan berulangkali ia melirik buku tebal berjudul “Super Mentoring” itu sambil komat-kamit menghafal. Ah..., gadis itu berbaik sangka, mungkin si teteh lagi menyempurnakan materi yang sudah dipersiapkan sebelumnya. Satu menit... dua menit... gadis itu merasa kanan-kirinya tidak lagi kosong, rupanya teman-teman satu kelompok mentoringnya yang lain sudah datang. Lho, itu kan si A yang hanya datang di pertemuan pertama? Syukurlah, gadis itu membatin, akhirnya dia tergerak untuk datang juga... Gadis itu melirik lagi sang teteh mentor yang masih saja berkutat dengan buku saktinya. Ketika akhirnya sang teteh membuka mulutnya, pena di tangan gadis itu kini sudah siap menumpahkan tintanya sebanyak mungkin. Tapi...
“Aduh maaf ya, dek. Teteh kemaren belajar buat ujian, jadi hari ini belum nyiapin apa-apa”
Bles! Wajah gadis itu berubah pias. Kecewa. Tapi, lagi-lagi gadis itu berbaik sangka, namanya juga teteh mentor, nggak siapnya pasti beda kan sama kita-kita ini? Dipandanginya si teteh itu lama. Barangkali cerita, teteh itu kan suka cerita. Biasanya cerita teteh itu menambah semangat. Sungguh, mentoring yang dijalaninya selama dua tiga kali ini telah membuka cakrawalanya tentang Islam. Mengapa ia harus meragukan mentoring yang hari ini? Lama, gadis itu memandang teteh di depannya, yang semakin panik.
“Siing kriik kriik...” salah seorang teman gadis itu berceletuk, menderai tawa di lingkaran kecil mereka. Gadis itu ikut tertawa, tapi hatinya terasa pahit. Kecewa. Tahu begitu dia ikut saja waktu teman-temannya tadi mengajaknya ke BIP, nonton premiere Harry Potter, ditraktir pula! Dan begitulah... sepanjang mentoring, wajah gadis itu terus kecewa, wajah teman-teman gadis itu bertambah bosan, dan wajah si teteh mentor bertambah panik. Tak terhitung banyaknya “siing kriik kriik” yang terjadi selama mentoring itu, lebih banyak lagi teman-temannya yang terantuk-antuk bahu kawan sebelahnya. Mengantuk.
Satu minggu berlalu... hari yang biasanya selalu dinantinya kini disongsong gadis itu dengan wajah lesu. Ajakan teman-temannya untuk menghadiri bazaar SMA tetangga kini tidak dapat ditolaknya. Sapaan sejuk teteh mentornya kini diabaikannya. Lambaian riang teman-teman satu kelompoknya dianggap angin lalu. Ah, males ah, paling-paling kayak kemaren, si teteh ngomong apaan sambil lirik-lirik buku dan kebingungan sendiri, begitu pikir sang gadis. Dan minggu itu, si teteh harus menghadapi kenyataan bahwa adik mentornya berkurang dua orang... si gadis yang penuh semangat dan si A yang baru dua kali datang. Setelah cukup lama merenung, teteh itu akhirnya sadar. Minggu lalu amalan yaumian-nya hancur-hancuran...
Pernah mengalami episode seperti itu?
Kalau kita melihat dari sudut pandang gadis itu, kita mungkin bisa saja menyalahkan sang teteh mentor. Kita kan udah capek-capek datang, mengorbankan traktiran nonton teman. Tapi kan, batin kita ketika teringat episode-episode kita sebagai pementor, kalau memang ujian mau bagaimana lagi? Semalam suntuk mengerjakan tugas yang limitnya menuju tak hingga, boro-boro nyiapin mentoring, berangkat kuliah aja terlambat. Ya, apapun alasan kita sebagai seorang pementor, adik itu melihat performance mementor kita, tidak peduli apakah kita banyak tugas atau banyak amanah. Dan lihat, akibat melalaikan persiapan, Islam harus kehilangan salah seorang kadernya, yang mungkin malah akan menjadi tonggak perubahan umat Islam! Astaghfirullah...
Bukankah Rasulullah berdakwah dengan cara membacakan ayat-ayat-Nya, menyucikan jiwa, dan mengajarkan kitab-Nya dengan hikmah? Lalu, jika kita tidak tahu apa yang harus kita bacakan, lantas bagaimana kita merasa pantas untuk mengisi mentoring? Ibaratnya teko, bagaimana kita bisa mengisi gelas-gelas yang haus dahaga itu itu kalau teko itu tidak ada isinya?
Ah, gampang ngomong begitu. Kenyataannya kan, susah.
Ya, mempersiapkan mentoring memang bukan suatu hal yang mudah. Karena itu, tidak semua orang kan bisa menjadi pementor? Paling tidak, seorang pementor harus melalui serangkaian daurah dan memenuhi kriteria amalan yaumian. Dan kita, ketika akhirnya kita saat ini menjadi pementor, artinya kita mampu untuk itu. Kita mampu untuk mempersiapkan mentoring kita dengan baik. Ah masa sih? Iya, kok! Kalaupun kita baru sempat membaca bahan mentoring sejam sebelumnya, paling tidak dahulu kita pernah mendapat materi itu saat kita daurah, dan catatannya masih kita baca. Kalau tidak ada catatannya? Lah, siapa suruh nggak nyatet. Masa’ pementor nggak punya catatan? Hehehe...
Dan sungguh, lebih dari menguasai materi yang akan disiapkan, yang paling penting adalah persiapan ruhyah. Bayangin deh, adik-adik kita datang mentoring sebetulnya untuk men-charge ruhyah mereka, tapi kita tidak punya “energi positif” yang bisa kita berikan pada mereka. Lantas, apa yang kita harapkan? Alih-alih mencatat materi yang sudah kita persiapkan sampai jungkir balik, adik-adik kita malah terlelap dengan damai, bosan melihat wajah kusam tetehnya yang lupa qiyamul lail. Duh, kalau begini, bagaimana mentoring kita disebut sebagai pemasok kader?
Jika memulai usaha butuh modal, maka memulai mentoring pun butuh modal. Yap, modal buat beli snack adik-adiknya... hehe. Dan yang terpenting adalah, persiapan ruhyah dan ilmu. Karena itu, jika selama ini adik-adik kita satu persatu pergi, jangan langsung menyalahkan jalan dakwah yang memang penuh onak dan duri dan pengusungnya sedikit. Kalau hari ini masih ada adik-adik kita tersayang yang “hilang”, maka bertanyalah...
“Sudahkah saya mempersiapkan mentoring saya hari ini?”
------------- Dibuat dalam rangka memenuhi tugas magang kominfo MATA’ :P -------------
Astaghfirullah... kayaknya selama ini saya kayak gini deh... semoga saya juga bisa lebih baik lagi dalam mempersiapkan mentoring...
- Location:home sweet home
- Music:desiran AC
Hmm…
Kenapa saya jadi bikin blog ya??
Sebetulnya, saya udah pernah membuat blog sejak saya masih SMP (whaa, sudah berapa tahun semua itu berlalu??? *jadi merasa tua*, di blogdrive, wordpress, dan blog.com. Di dua web tersebut udah pernah ada satu-dua tulisan sih (isinya curhatan teu puguh), tapi nggak saya lanjut-lanjutin.
Sebetulnya (lagi), tulisan-tulisan saya di dunia maya bisa dinikmati melalui forum penulis fiksi yang saya ikuti. Yaah, belum banyak sih tulisan saya, tapi cukup merepresentasikan diri saya.
Dan sebetulnya… oke, supaya nggak bosen, saya ganti dengan kata “sesungguhnya”. Sesungguhnya, alasan saya selama ini tidak aktif menulis di blog yaa cukup diwakilkan sebuah kata berawalan huruf M.
M
A
L
A
S
Hahaha… Payah nih.Oke. Sekian aja deh. Pengalaman saya, pembukaan yang terlalu panjang membuat saya malas menulis. Yeah, pembenaran diri…Lho, udahan? Perasaan nggak nyambung deh sama judul yang saya tulis… hehehe…Yap, sekarang mari kita bahas tentang kata-kata “berubah untuk mengubah” yang menjadi alasan saya membuat blog ini. Suatu hari, guru Bahasa Indonesia saya di sebuah bimbingan belajar (berinisial SSC hehehe) membahas tentang pembentukan kata. Nah, salah satunya adalah perbedaan “perubahan” dan “pengubahan”. Beda di sebelah mana? Gini lho, perubahan itu adalah proses berubah. Berubah itu, proses pada diri subjek yang bersangkutan. Sementara itu, pengubahan adalah proses mengubah. Mengubah itu proses yang dilakukan subjek pada sebuah objek. Waktu saya dapet penjelasan tentang itu, saya belum “ngeh” bahwa makna di balik itu semua begitu dalam, lebih dalam dari samudra… (lebih dalam dari cintanya si Agnes Monica dong? Naon deui…)
Ya, pokoknya, beberapa bulan kemudian, di sekolah saya diadakan sebuah pelatihan (saat itu saya jadi panitia, jadi saya “melatih” bukan “berlatih”… kalau “berlatih”, mestinya “perlatihan”… yeah, ngasal banget deh) mengambil tema “Pemuda dan Perubahan” dengan jargonnya “Perubahan ada di tangan kita!” (tebak deh pelatihan apa). Saat hari terakhir pelatihan tersebut, diadakanlah sebuah simulasi kepanitiaan acara dan saya kebagian peran “ibu-ibu katering”. Nah, pas saya mau nulis “Harga sewaktu-waktu dapat mengalami perubahan”, saya mikir… yang bener perubahan atau pengubahan ya? Dan saat itu terpikirkan oleh saya sebuah pernyataan (nggak nyambung deh sama harga), yang sebetulnya berat banget buat saya, dan akhirnya saya sampaikan pada saat penutupan acara (saya lupa redaksinya seperti apa tepatnya, tapi kurang lebih begini):
“Temen-temen sejak tadi berkata: ‘Perubahan ada di tangan kita!’, apakah temen-temen memahami makna sesungguhnya? Tolong bedakan antara perubahan dan pengubahan. Perubahan itu artinya proses berubah, artinya temen-temen sendiri lah yang berubah, bukan orang lain. Kalau temen-temen mengubah orang lain, itu baru namanya pengubahan. Dan dengan berakhirnya pelatihan ini, artinya temen-temen kini siap memulai perubahan yang temen-temen janjikan dalam jargon yang temen-temen serukan. Mungkin perubahan adalah hal yang kecil, karena lingkupnya adalah temen-temen sendiri. Tapi, hal besar itu dimulai dari hal yang kecil. Semoga aja, dari perubahan yang kita sama-sama lakukan inilah, kita bisa melakukan pengubahan terhadap wajah Islam saat ini”
Semua terdiam. Hanya terdengar desiran angin yang membelai lembut kepala-kepala yang duduk termenung… (sepertinya bingung) Kemudian, seorang temen yang duduk di samping saya nyeletuk, “Eh, Hanoi nyontek dari mana tuh kata-kata?” Hiks, kejamnya…
Ya sudahlah, kita sudahi saja pembukaan yang sebetulnya sudah ingin saya sudahi sejak tadi ini dengan mengucapkan "Alhamdulillahirabbil’alamiin", istighfar sebanyak-banyaknya dan do’a akhir majelis… lho? Geus ah, intinya adalah, semoga perubahan yang saya lakukan dengan membuat blog ini dapat mengubah (baca: menginspirasi) temen-temen yang membaca postingan saya…
Dan sejak saat itulah, kalau ada event-event apapun yang menagih “motto hidup”, saya menulis kata-kata: “Berubah untuk mengubah”. Kenapa? Yaa, karena buat apa kita baik kalau kita nggak bisa ngebuat lingkungan kita lebih baik. Dan gimana juga kita mau mengubah lingkungan menjadi lebih baik kalau kita nggak berubah lebih baik? Betul nggak?
Terakhir, yang benar itu datangnya dari Allah Swt., yang salah yaa dari temen-temen yang baca blog ini. Siapa suruh baca… hehehe… Iya deh, saya ngaku, saya yang salah kok. Tapi, lebih salah lagi orang yang udah tahu saya salah, tapi nggak dibenerin, hehehe… So, CMIIW please…
Kenapa saya jadi bikin blog ya??
Sebetulnya, saya udah pernah membuat blog sejak saya masih SMP (whaa, sudah berapa tahun semua itu berlalu??? *jadi merasa tua*, di blogdrive, wordpress, dan blog.com. Di dua web tersebut udah pernah ada satu-dua tulisan sih (isinya curhatan teu puguh), tapi nggak saya lanjut-lanjutin.
Sebetulnya (lagi), tulisan-tulisan saya di dunia maya bisa dinikmati melalui forum penulis fiksi yang saya ikuti. Yaah, belum banyak sih tulisan saya, tapi cukup merepresentasikan diri saya.
Dan sebetulnya… oke, supaya nggak bosen, saya ganti dengan kata “sesungguhnya”. Sesungguhnya, alasan saya selama ini tidak aktif menulis di blog yaa cukup diwakilkan sebuah kata berawalan huruf M.
M
A
L
A
S
Hahaha… Payah nih.Oke. Sekian aja deh. Pengalaman saya, pembukaan yang terlalu panjang membuat saya malas menulis. Yeah, pembenaran diri…Lho, udahan? Perasaan nggak nyambung deh sama judul yang saya tulis… hehehe…Yap, sekarang mari kita bahas tentang kata-kata “berubah untuk mengubah” yang menjadi alasan saya membuat blog ini. Suatu hari, guru Bahasa Indonesia saya di sebuah bimbingan belajar (berinisial SSC hehehe) membahas tentang pembentukan kata. Nah, salah satunya adalah perbedaan “perubahan” dan “pengubahan”. Beda di sebelah mana? Gini lho, perubahan itu adalah proses berubah. Berubah itu, proses pada diri subjek yang bersangkutan. Sementara itu, pengubahan adalah proses mengubah. Mengubah itu proses yang dilakukan subjek pada sebuah objek. Waktu saya dapet penjelasan tentang itu, saya belum “ngeh” bahwa makna di balik itu semua begitu dalam, lebih dalam dari samudra… (lebih dalam dari cintanya si Agnes Monica dong? Naon deui…)
Ya, pokoknya, beberapa bulan kemudian, di sekolah saya diadakan sebuah pelatihan (saat itu saya jadi panitia, jadi saya “melatih” bukan “berlatih”… kalau “berlatih”, mestinya “perlatihan”… yeah, ngasal banget deh) mengambil tema “Pemuda dan Perubahan” dengan jargonnya “Perubahan ada di tangan kita!” (tebak deh pelatihan apa). Saat hari terakhir pelatihan tersebut, diadakanlah sebuah simulasi kepanitiaan acara dan saya kebagian peran “ibu-ibu katering”. Nah, pas saya mau nulis “Harga sewaktu-waktu dapat mengalami perubahan”, saya mikir… yang bener perubahan atau pengubahan ya? Dan saat itu terpikirkan oleh saya sebuah pernyataan (nggak nyambung deh sama harga), yang sebetulnya berat banget buat saya, dan akhirnya saya sampaikan pada saat penutupan acara (saya lupa redaksinya seperti apa tepatnya, tapi kurang lebih begini):
“Temen-temen sejak tadi berkata: ‘Perubahan ada di tangan kita!’, apakah temen-temen memahami makna sesungguhnya? Tolong bedakan antara perubahan dan pengubahan. Perubahan itu artinya proses berubah, artinya temen-temen sendiri lah yang berubah, bukan orang lain. Kalau temen-temen mengubah orang lain, itu baru namanya pengubahan. Dan dengan berakhirnya pelatihan ini, artinya temen-temen kini siap memulai perubahan yang temen-temen janjikan dalam jargon yang temen-temen serukan. Mungkin perubahan adalah hal yang kecil, karena lingkupnya adalah temen-temen sendiri. Tapi, hal besar itu dimulai dari hal yang kecil. Semoga aja, dari perubahan yang kita sama-sama lakukan inilah, kita bisa melakukan pengubahan terhadap wajah Islam saat ini”
Semua terdiam. Hanya terdengar desiran angin yang membelai lembut kepala-kepala yang duduk termenung… (sepertinya bingung) Kemudian, seorang temen yang duduk di samping saya nyeletuk, “Eh, Hanoi nyontek dari mana tuh kata-kata?” Hiks, kejamnya…
Ya sudahlah, kita sudahi saja pembukaan yang sebetulnya sudah ingin saya sudahi sejak tadi ini dengan mengucapkan "Alhamdulillahirabbil’alamiin", istighfar sebanyak-banyaknya dan do’a akhir majelis… lho? Geus ah, intinya adalah, semoga perubahan yang saya lakukan dengan membuat blog ini dapat mengubah (baca: menginspirasi) temen-temen yang membaca postingan saya…
Dan sejak saat itulah, kalau ada event-event apapun yang menagih “motto hidup”, saya menulis kata-kata: “Berubah untuk mengubah”. Kenapa? Yaa, karena buat apa kita baik kalau kita nggak bisa ngebuat lingkungan kita lebih baik. Dan gimana juga kita mau mengubah lingkungan menjadi lebih baik kalau kita nggak berubah lebih baik? Betul nggak?
Terakhir, yang benar itu datangnya dari Allah Swt., yang salah yaa dari temen-temen yang baca blog ini. Siapa suruh baca… hehehe… Iya deh, saya ngaku, saya yang salah kok. Tapi, lebih salah lagi orang yang udah tahu saya salah, tapi nggak dibenerin, hehehe… So, CMIIW please…
- Location:Labtek V
- Mood:
weird - Music:Semilir angin pagi... :D
