?

Log in

No account? Create an account

Previous Entry | Next Entry

(Ceritanya ini ditulis seandainya ada orang yang diam-diam yang membaca blog saya, meski sepertinya tidak ada. LJ kurang populer ya di Indonesia? Padahal saya senang karena dia lebih user friendly buat orang gaptek macam saya)

Astaga. Sudah berapa lama postingan ini ditelantarkan? Heu. Maafkan saya. Bukan kesibukan yang mengalihkan saya, tetapi dunia hiburan Korea yang menyita otak saya. Astaga, tidak produktif sekali saya ini. Hhh... Baiklah, mari kita lanjutkan postingan yang terlantar ini. Sebelum itu, saya hendak membela diri. Salah satu alasan saya mengapa postingan ini tidak dilanjutkan adalah karena DATA RESEP YANG SAYA TULIS HILANG! Dan saya terpaksa harus membuka luka lama mendata ulang dari game tersebut. Sedikit random, tetapi mungkin ada yang heran, mengapa pula saya memilih hari ini dari semua hari? Jawabannya ada di postingan saya selanjutnya tentang kuliah spektakuler yang baru saya jalani hari ini. Doakan saja semoga saya bisa benar-benar menulis postingan tersebut, haha.

RANDOM: Btwbtw, katanya ada Chocolatier 3 ya? Widiiih~~~ *memburu GameHouse*

Sebelumnya, saya ingin sedikit pamer hasil yang saya capai setelah satu minggu kurang bermain dengan giat pada liburan yang lalu, hehe.

Sekali lagi, saya adalah orang yang amat sangat ceroboh dan tidak lihai dalam bermain game. Jadi mohon maklum seandainya saya terlalu overexcited dengan hasil sesederhana ini. ^^ Mari langsung lanjutkan saja ke pembahasan "secret ingredients" yang nampaknya akan memakan waktu jutaan tahun kalau saya terus-terusan menuruti kemalasan diri.

(3) BLACK TEA
(di game ini ditemukan di The Himalaya)

Random: Ketika pertama kali saya mendengar "black tea", yang terbayang di benak saya adalah "Peko Black Tea"-nya "Walini", sebuah merk teh lokal. Haha. Sedikit trivia, teh celup/teh botol/teh kotak yang biasa kita konsumsi adalah teh hijau yang ditambahkan aroma melati.

Teh mungkin sudah tidak asing lagi bagi kita, dan juga bagi auto-correct Microsoft Word yang selalu bersikeras ini seharusnya ditulis "the", tetapi mungkin tidak banyak yang tahu tipe-tipe teh. Pada dasarnya, teh yang kita kenal dan kita suka ini berasal dari spesies yang sama, Camillea sinensis atau Camillea asimeca. Nah, pemrosesan teh ini cukup unik karena daun teh akan langsung layu dan teroksidasi bila tidak dikeringkan langsung setelah dipetik. Daun tersebut akan menjadi lebih hitam seiring dengan rusaknya klorofil dan lepasnya tanin. Proses oksidasi ini akan terhenti pada tahap tertentu dengan cara dipanaskan.

Klasifikasi teh ini pun dibagi berdasarkan pemrosesannya.
- teh putih: dilayukan tetapi tidak dioksidasi
- teh kuning: tidak dilayukan dan tidak dioksidasi, tapi dibiarkan menguning
- teh hijau: tidak dilakukan dan tidak dioksidasi
- teh oolong: dilayukan, dipotong-potong, sebagian dioksidasi
- teh hitam: dilayukan, dihancurkan, dan dioksidasi penuh

Berikut ini adalah diagram alir pengolahan teh:


Langsung saja dengan si teh hitam ini. Bagaimana cara memproses daun teh menjadi teh hitam?


Tahap pertama setelah daun teh dipetik adalah pelayuan. Daun teh dibiarkan layu di dalam ruangan menggunakan udara kering yang dihembuskan oleh kipas/fan (lihat gambar di atas). Selain dengan cara tersebut, teh juga dapat di"layukan" di bawah sinar matahari seperti teh oolong. Proses ini membantu protein terdegradasi menjadi asam amino dan pelepasan kafein -- yang nanti tentunya akan mempengaruhi rasa teh. Perbedaan berbagai jenis teh dalam tahap ini adalah pada kandungan air dan persen daun kering teh akhir.

Setelah proses pelayuannya, teh hitam dapat diproses menggunakan dua cara: ortodoks dan CTC. Proses ortodoks diawali dengan penghancuran menggunakan penghancur sederhana yang dilakukan biasanya secara manual. Setelah itu, teh dibiarkan teroksidasi di dalam ruangan yang suhunya diatur 20-26°C dengan kelembapan 95-98%. Proses oksidasi ini memerlukan waktu setengah jam sampai tiga jam. Setelah dioksidasi di dalam ruangan, selanjutnya daun teh dilewatkan ke dalam rotovane (cara ortodoks). Perbedaan proses ortodoks dan CTC ini adalah pada jenis alatnya. Pada cara ortodoks, daun teh dilewatkan ke dalam meja yang berputar, sementara pada CTC,  alat ini memiliki "gigi" yang dapat mencabik-cabik teh secara lebih seragam. (? entahlah saya kurang mengerti bagian ini -_- tapi kayaknya proses CTC juga diawali sama fermentasi di awal itu lho...). Terakhir, untuk menghentikan proses oksidasi, daun teh ini kemudian dikeringkan, dites rasanya, disortasi, dikemas, dan siap dijual! ^^
 

Nah, selanjutnya, ini yang belum saya lakukan di postingan sebelumnya. Bagaimana bila teh ini ditambahkan ke dalam cokelat? Hmm... Ketika saya mencari di google dengan kata kunci "black tea chocolate" yang muncul adalah teh hitam dengan rasa coklat. Tsk. Akhirnya, setelah diubah sedikit menjadi resep chocolate truffle, ditemukanlah web resep ini: http://www.delish.com/recipefinder/black-currant-chocolate-truffles-desserts. Bagaimana rasanya? Entahlah. Saya belum mencobanya. Mungkin di suatu masa ketika saya tidak lagi selalu gagal dalam memasak (haha), saya akan mencobanya. Kalau ada yang berhasil membuat, mohon dishare bagaimana rasanya! ;)

Sumber:
http://en.wikipedia.org/wiki/Black_tea
http://en.wikipedia.org/wiki/Tea
http://en.wikipedia.org/wiki/Tea_processing
http://en.wikipedia.org/wiki/Orange_pekoe
http://www.emt-india.net/process/tea/pdf/TeaProductionProcess003.pdf
http://peermade.info/travel/index.php?page=114
http://www.delish.com/recipefinder/black-currant-chocolate-truffles-desserts

(to be continued)

Next: Cloves/Cengkih dan Currants

Comments